Minggu, 06 September 2026
Jumat, 21 Agustus 2026
Foto berubah sesuai narasi...
Persahabatan mulai dari sini, kemudian kami memodifikasi agar lebih ceria dan riang karena ada komentar dari grup pcpm 19 seperti tertekan
Kemudian di tempat kami ada lomba foto HUT RI yang ke 81, kami mengubahnya sesuai dengan momen. Sehingga kami berada di puncak pegunungan Alpen untuk merayakan HUT RI
Kemudian, setiap acara kemerdekaan Presiden biasanya menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan para anggota perwakilan rakyat di gedung DPR RI.
Selain itu ditempat kami, Bu Destri selaku Pjs GBI juga sedang meningkatkan sistem pembayaran nasional dengan menggunakan Kartu Kredit Indonesia yang dikenal KKI.
Kemudian, di bulan ini sedang trend film Spiderman, kami pun ikut berpartisipasi untuk bertemu dengan spiderman dan MJ dengan berpakaian seperti Super Hero.
Rekans, ini semua dapat dilakukan dalam beberapa detik dengan men-feeding satu foto asli kemudian memodifikasi dengan menulis prompt yang dikehendaki sesuai narasi....❤️
Senin, 27 Juli 2026
Ketika Hati Berkarat, Terkunci, Dan Akhirnya Mati...
Mengapa Al-Qur’an Menggambarkan Hati Bisa Berkarat, Terkunci, Hingga Menjadi Buta? Ternyata Allah Sedang Menjelaskan Tahapan Kematian Hati yang Paling Ditakuti Seorang Mukmin
Pernahkah Anda merasa…
Dulu…
Mendengar adzan saja sudah membuat hati bergetar.
Membaca Al-Qur’an beberapa ayat saja sudah membuat mata berkaca-kaca.
Mendengar kisah tentang surga…
Hati dipenuhi harapan.
Mendengar ayat tentang neraka…
Air mata jatuh tanpa dipaksa.
Tetapi…
Entah sejak kapan…
Semuanya terasa biasa.
Al-Qur’an masih dibaca.
Adzan masih terdengar.
Nasihat masih datang.
Namun…
Hati seperti tidak lagi bereaksi.
Mengapa bisa demikian?
Apakah Allah menjelaskan fenomena ini?
Jawabannya…
Ya.
Bahkan jauh sebelum manusia mengenal ilmu psikologi.
Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa…
Hati manusia tidak langsung mati.
Ia mengalami proses.
Sedikit demi sedikit.
Hingga akhirnya…
Tidak lagi mampu menerima cahaya.
Tahap Pertama: Hati Mulai Berkarat
Allah berfirman,
كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi (mengkaratkan) hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)
Perhatikan…
Allah tidak mengatakan hati itu langsung rusak.
Allah memilih kata…
“Karat.”
Mengapa karat?
Karena karat…
Tidak muncul dalam satu hari.
Besi yang mengilap…
Tidak tiba-tiba berubah menjadi rapuh.
Ia perlahan kehilangan kilaunya.
Sedikit demi sedikit.
Begitulah dosa.
Satu kebohongan.
Satu pandangan yang haram.
Satu ghibah.
Satu kesombongan.
Satu shalat yang sengaja ditunda.
Mungkin tampak kecil.
Tetapi jika terus dilakukan tanpa taubat…
Hati mulai tertutup.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Apabila seorang hamba berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat, beristighfar, dan berhenti, hatinya kembali bersih. Namun jika ia mengulanginya, titik hitam itu bertambah hingga menutupi seluruh hatinya. Itulah ‘raan’ yang disebut dalam Al-Qur’an.”
(HR. At-Tirmidzi, hasan)
Subhanallah…
Yang berkarat bukan iman itu sendiri.
Tetapi…
Tempat bersemayamnya iman.
Tahap Kedua: Hati Menjadi Terkunci
Allah kemudian berfirman,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Ataukah hati mereka telah terkunci?”
(QS. Muhammad: 24)
Mengapa Allah menggunakan kata…
“Terkunci”?
Karena pintu yang terkunci…
Bukan berarti tidak ada cahaya di luar.
Bukan berarti matahari berhenti bersinar.
Tetapi…
Pemilik rumah…
Tidak mau membukanya.
Begitulah hati.
Al-Qur’an tetap indah.
Nasihat tetap benar.
Adzan tetap berkumandang.
Tetapi…
Hati yang terkunci…
Menolak menerima semuanya.
Bukan karena kurang bukti.
Tetapi karena terlalu lama mencintai dosa.
Tahap Ketiga: Hati Menjadi Buta
Inilah tahap yang paling mengerikan.
Allah berfirman,
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)
Renungkan ayat ini.
Seseorang masih bisa melihat jalan.
Masih bisa membaca buku.
Masih bisa mengenali wajah.
Tetapi…
Tidak bisa melihat kebenaran.
Ia melihat kematian setiap hari…
Namun merasa dirinya akan hidup selamanya.
Ia melihat kuburan…
Namun tidak pernah merasa akan menghuninya.
Ia membaca Al-Qur’an…
Namun tidak merasa sedang diajak berbicara oleh Allah.
Yang buta…
Bukan matanya.
Yang buta…
Adalah hatinya.
Mengapa Allah Menjelaskan Tahapan Ini?
Karena Allah ingin menyelamatkan kita…
Sebelum terlambat.
Bayangkan seorang dokter.
Ketika menemukan penyakit pada stadium awal…
Ia segera memberi peringatan.
Mengapa?
Karena masih bisa disembuhkan.
Begitu pula Al-Qur’an.
Allah menunjukkan tanda-tanda awal matinya hati.
Agar kita segera kembali.
Sebelum hati benar-benar kehilangan kemampuannya menerima hidayah.
Masih Adakah Harapan?
Inilah bagian yang paling menenangkan.
Selama nyawa belum sampai di tenggorokan…
Selama matahari belum terbit dari barat…
Pintu taubat masih terbuka.
Karat dapat dibersihkan dengan istighfar.
Kunci dapat dibuka dengan taubat yang tulus.
Hati yang lama kering…
Dapat hidup kembali dengan Al-Qur’an.
Bukankah tanah yang mati…
Menjadi hijau kembali setelah hujan?
Demikian pula hati.
Ia tidak membutuhkan hujan air.
Ia membutuhkan hujan wahyu.
Satu ayat yang direnungkan.
Satu sujud yang dipanjangkan.
Satu istighfar yang lahir dari hati.
Bisa menjadi awal kehidupan baru.
Renungan
Jangan takut jika hari ini Anda menyadari hati mulai mengeras.
Takutlah…
Jika hati telah mengeras…
Tetapi Anda tidak lagi merasa ada yang salah.
Karena orang yang masih menangisi kerasnya hati…
Sesungguhnya hatinya belum mati.
Ia masih hidup.
Ia masih mendengar panggilan Allah.
Dan Allah tidak pernah menolak hamba yang datang kepada-Nya dengan hati yang ingin diperbaiki.
Mungkin selama ini kita sibuk menjaga wajah agar tetap muda.
Menjaga tubuh agar tetap sehat.
Menjaga harta agar terus bertambah.
Tetapi…
Sudah berapa lama kita tidak memeriksa keadaan hati kita?
Padahal…
Di hadapan Allah kelak…
Yang akan dinilai bukan seberapa tampan wajah kita.
Bukan seberapa tinggi jabatan kita.
Bukan seberapa besar kekayaan kita.
Melainkan…
Apakah hati itu masih hidup ketika dipanggil oleh ayat-ayat-Nya.
Karena keajaiban Al-Qur’an bukan hanya menjelaskan jalan menuju surga.
Tetapi juga mengajarkan cara mengenali penyakit hati sebelum penyakit itu mematikan jiwa.
Dan sungguh, tidak ada musibah yang lebih besar daripada seseorang yang masih hidup di dunia, tetapi hatinya telah lebih dahulu mati daripada jasadnya.
#AlQuran
#MukjizatAlQuran
#KeajaibanAlQuran
Disadur Dari WA
Mereka Membohongi Kalian...
Katanya kesepakatan Gencatan Senjata. Namun video di atas menggambarkan bagaimana seorang Putri Farouk Ramadan mengucapkan salam perpisahan kepada ayahnya yang gugur setelah ditembak pasukan penjajah saat berusaha mempertahankan Desa Tel dari serangan milisi pemukim israel.
Jalan-jalan di Jalur Gaza terus dibasahi darah para korban jiwa setiap jam.
Duka kehilangan menyelimuti rumah-rumah dan tenda-tenda pengungsian setiap hari. Luka itu tampak dari tatapan anak-anak yatim dan suara perut mereka yang kosong. Sebab, penjajah israel tidak pernah menghentikan genosida di Jalur Gaza, bahkan untuk satu hari pun.
Seorang pemuda Palestina meluapkan teriakan yang dipenuhi amarah dan duka, di tengah bercak-bercak darah yang berserakan di Kamp Pengungsi Nuseirat, setelah pembantaian yang dilakukan pasukan pendudukan Israel. Serangan tersebut mengakibatkan delapan warga Palestina gugur.
Seorang pemuda Palestina meluapkan teriakan yang dipenuhi amarah dan duka, di tengah bercak-bercak darah yang berserakan di Kamp Pengungsi Nuseirat, setelah pembantaian yang dilakukan pasukan pendudukan Israel. Serangan tersebut mengakibatkan delapan warga Palestina gugur.
Sumber dari Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza:
Dalam 24 jam terakhir, rumah-rumah sakit di Jalur Gaza menerima:
- 12 orang meninggal dunia
- 12 orang terluka
Sejak gencatan senjata (11 Oktober):
- Total korban jiwa: 1.180 orang
- Total korban luka: 3.810 orang
- Total jenazah yang berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan atau lokasi terdampak: 802 jenazah
Akumulasi korban sejak dimulainya agresi pada 7 Oktober 2023:
- Total korban jiwa: 73.305 orang
- Total korban luka: 173.918 orang
#MerekaTelahMembohongiKalian
____________
Simak kabar Palestina di channel Telegram:
🇵🇸 Halopalestina
✅ Join Channel: https://t.me/halopalestinacom
____________
Simak kabar Palestina di channel Telegram:
🇵🇸 Halopalestina
✅ Join Channel: https://t.me/halopalestinacom
Kamis, 23 Juli 2026
Mengajari Agama dengan Asyik....
Isu penting dalam pola asuh anak (parenting) berbasis pendidikan fitrah.
Pengajaran Tanpa Kasih Sayang: Banyak orang tua fokus menuntut hafalan, kemampuan ibadah, dan penampilan luar agar anak terlihat "sholeh/sholehah", tetapi lupa mengajarkan anak untuk mencintai Allah dan mengenal mengapa mereka beribadah.
Kepatuhan Semu (Bukan kesadaran): Kepatuhan yang didasari ketakutan atau tekanan orang tua hanya bertahan sementara. Ketika pengawasan hilang (atau orang tua meninggal), anak berisiko menolak/meninggalkan ibadah tersebut.
Dampak Trauma Agama: Pemaksaan tanpa pemahaman dapat menimbulkan trauma psikologis pada anak (seperti cemas/histeris saat diminta shalat/ngaji) dan berpotensi memicu penyimpangan perilaku di kemudian hari.
Tujuan Pengasuhan: Mengalihkan ketergantungan dan kepatuhan anak dari orang tua kepada Allah SWT, sehingga anak tetap taat tanpa perlu diawasi manusia.
Rekomendasi Pola Pengasuhan
1. Dahulukan Penanaman Tauhid & Cinta (Iman Sebelum Quran/Syariat)
Focus pada pembentukan iman sebelum menuntut capaian hafalan/teknis ibadah.
Kenalkan Allah lewat sifat-sifat-Nya yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Indah, bukan hanya sebagai sosok yang menakutkan/penghukum.
2. Hindari Pemaksaan & Metode Thoring (Menjejali)
Ganti tuntutan instan dengan keteladanan (uswah) dan pembiasaan yang menyenangkan.
Buat suasana belajar agama (mengaji/shalat) menjadi momen yang hangat, tenang, dan dinanti-nanti oleh anak.
3. Bangun Komunikasi & Kesadaran
Ajak anak berdialog tentang mengapa kita beribadah, bukan sekadar perintah satu arah.
Dengarkan perasaan anak jika mereka merasa lelah atau kesulitan, lalu berikan dorongan secara bertahap (gradual).
4. Niatkan Pengasuhan Karena Allah
Pastikan tuntutan kita kepada anak bukan demi prestise orang tua ("supaya dipuji orang lain"), melainkan demi kebaikan dan keselamatan fitrah anak itu sendiri.
Menawarlah Lewat Doa....
Saudaraku,
Semua takdir sudah ditulis. Namun menawarlah Lewat Doa. Karena ada hal-hal yang tidak berubah oleh kekuatanmu, tapi berubah dengan tangisanmu kepada Allah Swt.
Rasulullah Saw bersabda, "Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa". (HR Tirmidzi). Jadi jangan pernah remehkan doa-doamu kepada Allah Swt.
Kalau begitu cukupkah hanya dengan berdoa?
Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu mau mengubah dirinya." (QS Ar-ra'd 11).
Maka mintalah ke langit Dan bergeraklah di bumi.
Sebelum sibuk meminta yang belum ada, maka jangan lupa syukuri dulu apa yang Allah Swt telah berikan. Kadang yang membuat doa terasa jauh, Bukan Karena Allah Swt tidak memberikan. Tapi karena kita lupa bersyukur.
Setelah bersyukur, banyaklah berdoa. Jangan hanya datang dengan daftar keinginan, tapi datang dengan hati yang tunduk. Setelah berdoa, bekerjalah. Doa Bukan alasan untuk diam, tetapi doa adalah tenaga agar kamu kuat berjalan.
Tapi ingat jangan cari jalan yang membuatmu jauh Dari Allah Swt. Jalan halal mungkin lebih berat, tapi ia lebih dekat dengan pertolongan Allah Swt.
Jadi Saudaraku, berdoa dan bekerja, hasil kita serahkan kepada Allah Swt. Dan ketahuilah, tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita. Sisakan ruang bahwa Allah Swt adalah Tuhan yang Maha Dari Segala Maha.
Wallahu 'alam.
