Esensi dari Hijrah bukan sekadar pindah secara fisik, melainkan sebuah transformasi spiritual menjadikan hidup lebih bermakna dan berkah Dan dalam limpahan ridho Allah Ta'ala.
Dari mana kita harus memulainya?
Kata Imam Hasan al-Basri : "Perbaiki sholatmu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu". Ini bukan hanya sekedar kata bijak atau kata hikmah, melainkan sebuah prinsip hidup yang sangat mendalam dan memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam.
Pernyataan ini bukan sekadar kalimat motivasi, melainkan sebuah refleksi dari bagaimana hubungan seorang hamba dengan Penciptanya menentukan kualitas seluruh aspek kehidupannya.
Rasulullah SAW bersabda, amalan yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah sholat. Jika sholatnya baik, maka beruntung dan sukseslah ia. Jika sholatnya rusak, maka kecewa dan merugilah ia (HR. Tirmidzi). Ketika fondasi utama hidup kokoh, maka urusan yang lain akan ikut tegak.
Sholat yang dilakukan dengan khusyuk dan benar akan menjadi perisai otomatis yang menjaga seseorang dari keputusan-keputusan buruk, maksiat, dan lingkaran setan yang bisa menghancurkan hidupnya.
Hidup penuh dengan tekanan. Sholat adalah momen di mana seorang hamba "beristirahat" dari hiruk-pikuk dunia dan berserah diri total (mindfulness). Jiwa yang tenang setelah sholat akan melahirkan pikiran yang jernih untuk menyelesaikan berbagai masalah hidup.
Orang yang menjaga sholatnya di awal waktu secara tidak langsung sedang melatih kedisiplinan dan menata prioritas hidupnya: mendahulukan panggilan Sang Pencipta di atas urusan makhluk. Ketika kita mendahulukan Allah, Allah akan mudahkan urusan kita.
Apa lagi yang perlu diingat?
Hidup di dunia hanyalah sementara, kita hanya seorang musafir yang singgah di dunia, Dan akan tinggal di alam selama-lamanya yang kekal yaitu Akhirat.
Hidup di dunia penuh dengan ujian. Hidup di dunia adalah perjuangan untuk melawan godaan nafsu, godaan syaitan Dan godaan iblis. Raja Iblis yang menurunkan Nabi Adam alaihissalam dari surga sampai saat ini belum mati, iblis yang menyesatkan anak Nabi Nuh, istri Nabi luth, ayah Nabi Ibrahim belum mati. Iblis yang menggoda Firaun laknatyllah pun belum mati. Kalau lah bukan pertolongan Allah Swt manusia akan mudah tergelincir dalam kesesatan. Oleh karena itu Al-Quran selalu memberikan kabar gembira berupa surga Nya kepada seluruh manusia yang tetap istiqomah dalam Al-Islam.
Hidup di dunia adalah kesederhanaan meskipun telah memiliki karya besar baik kekayaan maupun kekuasaan.
Nasehat Imam Ahmad bin hambal tentang dunia: "Dunia tempat berlelah-lelah untuk berjuang dan istiqomah dalam ketaatan. Sedangkan istirahat mu, ketika kakimu bisa menapak di surga Allah Swt.."
Wallahu 'alam
