Rasulullah Saw setiap bulan Ramadhan selalu ditalaqqi oleh malailat Jibril. Fenomena ini dalam khazanah hadist dikenal juga dengan istilah Al-Mu'aradhah (saling menyetorkan hafalan).
Talaqqi antara Nabi dan Jibril adalah metode validasi wahyu, mekanisme teknis untuk memastikan kebenaran mutlak Al-Qur'an tetap terjaga.
Berdasarkan hadist sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Abbas RA:
1. Frekuensi dan Waktu
Rasulullah SAW bertemu dengan Malaikat Jibril setiap malam di bulan Ramadhan. Jibril AS mendatangi Nabi untuk mengecek dan memperkuat hafalan Al-Qur'an beliau.
"Dahulu Jibril mendatangi Nabi SAW pada setiap malam di bulan Ramadhan, lalu ia melakukan mudarasah (mempelajari/menyimak) Al-Qur'an bersama beliau." (HR. Bukhari)
2. Tahun Terakhir (Al-'Ardhah al-Akhirah)
Pada tahun terakhir kehidupan Rasulullah SAW, Malaikat Jibril melakukan talaqqi/mu'aradhah ini sebanyak dua kali (biasanya hanya sekali). Ini menjadi isyarat bahwa ajal beliau sudah dekat dan Al-Qur'an telah sempurna susunannya.
3. Hubungan dengan "Haqqa Tilawatihi" (QS Al-Baqarah Ayat 121)
- Standardisasi Wahyu: Proses talaqqi ini memastikan bahwa Al-Qur'an yang sampai ke kita adalah murni, tanpa ada pengurangan atau penambahan satu huruf pun. Ini adalah bentuk tertinggi dari Haqqa Tilawatihi (membaca dengan sebenar-benar bacaan).
- Keteladanan Nabi: Meskipun Nabi adalah penerima wahyu, beliau tetap "menyetorkan" hafalannya kepada Jibril. Ini mengajarkan kita bahwa dalam mempelajari Al-Qur'an, seseorang tetap butuh guru (talaqqi) agar tidak terjebak pada hawa nafsu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar