Dalam Islam, kematian disebut sebagai Yaqin (keyakinan yang pasti). Secara psikologis, Islam menggeser paradigma kematian dari "teror yang mematikan" menjadi "pertemuan yang dirindukan."
Berikut adalah bedah psikologi kematian menurut perspektif syariat Islam :
1. Konsep Dzikrul Maut (Terapi Kognitif)
Dalam psikologi modern, memikirkan kematian sering dianggap morbid atau memicu kecemasan. Namun, Rasulullah SAW bersuara sebaliknya:
"Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (kematian)." (HR. Tirmidzi)
Secara psikologis, ini adalah regulasi diri. Dengan mengingat mati, seseorang mengalami penurunan tingkat narsisme dan keterikatan berlebih pada materi (zuhud). Ini menciptakan ketenangan batin karena seseorang tidak lagi merasa "memiliki" dunia secara permanen.
2. Fase Sakaratul Maut: Transisi Psiko-Spiritual
Al-Qur'an menggambarkan fase ini sebagai momen krusial di mana tabir visual antara dunia fisik dan metafisik terbuka.
Peningkatan Persepsi: "Maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam." (QS. Qaf: 22).
Kecemasan vs Ketenangan: Bagi jiwa yang tenang (Nafsu Mutmainnah), kematian diproses secara psikologis sebagai kepulangan yang damai. Sebaliknya, bagi yang menolak kebenaran, ada trauma psikis hebat saat menyadari realitas yang selama ini diingkari.
3. Harapan (Raja') dan Rasa Takut (Khauf)
Psikologi Islam menjaga keseimbangan antara dua emosi ini. Menjelang ajal, porsi Harapan (Raja') harus lebih besar.
Hadits Nabi menyebutkan: "Janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dalam keadaan berprasangka baik (Husnuzhan) kepada Allah." (HR. Muslim).
Secara psikologis, Husnuzhan adalah bentuk positive framing yang memberikan kedamaian luar biasa di detik-detik terakhir kehidupan.
4. Kehidupan Barzakh: Kesadaran Pasca-Mati
Islam menegaskan bahwa kematian bukan berarti kehilangan kesadaran (unconsciousness). Roh tetap memiliki fungsi kognitif: bisa mendengar, merasakan nikmat, atau mengalami kesedihan. Ini sejalan dengan teori psikologi tentang keberlanjutan energi kesadaran, namun dalam domain yang berbeda.
Pertanyaan yang sangat penting bekal apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi kematian yang pasti terjadi?
AlQuran mengajarkan QS AlBaqarah 177, Jadilah orang bertaqwa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar